Diskusi Data
Berbagai Artikel yang harus Dibaca

Stock Split, ROE, PER, dan PBV

Ilustrasi

Stock Split 

Stock Split merupakan sebuah aksi korporasi yang dilakukan perusahaan untuk memecahkan nilai nominal saham kedalam nilai nominal yang lebih kecil, dengan cara memecahkan selembar saham menjadi beberapa lembar saham.

Maka jumlah lembar saham yang beredar akan meningkat secara proporsional dengan penurunan nilai nominal sahamnya tanpa adanya transaksi jual beli, sehingga modal yang dimiliki oleh si pemegang saham tidak berubah.

Contohnya: Saham Dotcom seharga Rp1.000,-/lembar saham sebanyak 10 lot. Setelah stock split, harga saham Dotcom menjadi Rp500,-/lembar saham dengan jumlah lembar beredar lebih banyak 2 kali lipat, sehingga setelah stock split menjadi Rp500,-/lembar saham maka jumlah saham yang dimiliki adalah sebanyak 20 lot.

Aksi korporasi yang merupakan kebalikan dari stock split adalah reverse stock split, yaitu peningkatan nilai nominal per lembar saham dengan mengurangi jumlah saham yang beredar dengan rasio tertentu.
—————————————

Return on Equity “ROE”

Return on Equity (ROE) adalah salah satu perhitungan dalam rasio profitabilitas. 
ROE adalah  rasio profitabilitas yang mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari investasi pemegang saham di perusahaan tersebut dan ROE biasanya dinyatakan dengan persentase (%).

Misalnya, ROE sebesar 10% berarti setiap Rp100 kekayaan bersih perusahaan yang ditanamkan oleh pemodal dapat memberikan kontribusi laba bersih sebesar Rp10. ROE merupakan indikator seberapa efisien sebuah perusahaan dijalankan.
ROE = Laba Bersih : Ekuitas

Pertanyaannya, bagaimana cara menilai ROE? misalnya ROE sebesar 20% itu bagus atau tidak?

Ada dua cara yang dapat digunakan untuk menilai ROE, yaitu:
Bandingkan dengan Return on Equity (ROE)  perusahaan sejenis dalam industri yang sama, atau bisa juga membandingkan dengan rata-rata ROE industri.

Bandingkan Return on Equity (ROE)  perusahaan dari waktu ke waktu (melihat trend-nya), apakah cenderung naik atau turun.

Sebaiknya kedua cara di atas digunakan bersama-sama untuk memperoleh analisis yang lebih lengkap. Carilah saham yang mempunyai ROE yang meningkat serta cukup stabil.

Note : ROE besar belum tentu bagus. bisa jadi karna leverage (utangnya) besar. karena utang yg besar juga bisa membuat rasio laba menjadi besar.

pastikan ROE besar disertai dengan NPM dan asset turnover (perputaran aset) yang besar.
………………………………..

Price Earning Ratio “PER”

Price Earning Ratio (PER) & Price to Book Value (PBV) saham yang bagus itu nilainya berapa? Apa ada patokan dasarnya?

Yang namanya harga wajar saham itu tidak bisa kita pukul rata sama semua. Masing-masing punya karakternya masing-masing. Kita bahas yang PER nya dulu…

Price Earning Ratio (PER)  adalah salah satu ukuran paling dasar dalam analisis saham secara fundamental. Secara mudahnya, Price Earning Ratio (PER)  merupakan ‘perbandingan antara harga saham dengan laba bersih perusahaan’. yang menjadi fokus perhitungannya adalah laba bersih perusahaan, maka kita bisa mengetahui secara real apakah harga sebuah saham tergolong wajar atau tidak.

Jika PER sebuah saham adalah 2 artinya harga saham tersebut 2 kali lipat laba bersih yang dihasilkan perusahaan. Apakah ini dikatakan mahal ? Secara nilai mahal, tapi dalam melakukan analisa fundamental bukan hanya angka-angka yang dilihat, tapi juga faktor lain seperti nama besar perusahaan serta brand-nya. Selain itu, perlu juga dianalisa kondisi sektor sahamnya saat ini, apakah sedang bagus atau tidak. 
Jika hal di atas dinilai positif maka bisa saja angka 2 kali tersebut dikatakan masih murah.
…………………………………….

Price Earning Ratio “PBV” 

kita sudah bahas Price Earning Ratio (PER), nah sekarang apa itu Price Book Value (PBV)?

PBV ini pada dasarnya sama saja dengan PER. Pembedanya, kalau PER berfokus pada laba bersih yang dihasilkan perusahaan, PBV fokusnya pada nilai ekuitas perusahaan.
Price Book Value (PBV) berarti ‘harga saham dibandingkan nilai ekuitas per saham’.

“Semakin tinggi PBV nya, apakah semakin mahal ?” Belum tentu.

Biasanya jika PBV tinggi, investor disarankan untuk mencari saham dengan PBV yang lebih rendah daripada rata-rata PBV industri. Namun sama seperti PER, dalam melakukan Analisa Fundamental bukan hanya angka-angka yang dilihat, tapi juga faktor lain seperti nama besar perusahaan serta brand-nya. Selain itu, perlu juga dianalisa kondisi sektor sahamnya saat ini, apakah sedang bagus atau tidak. Jika hal di atas dinilai positif maka bisa saja PBV tinggi tapi saham tersebut dikatakan masih murah.

“Lebih baik pakai PBV atau PER ?”. Kalau ini, kembali ke pribadi masing-masing dalam menganalisanya.

Untuk sobat semuanya jangan lupa terus belajar supaya investasinya makin mantap.

Bingung mau belajar dimana ? gabung aja diKomunitas ISP di setiap kota anda yang ada di seluruh indonesia.


Semoga Bermanfaat !!

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *